Wednesday, 5 January 2011

Kapankah awal kehidupan terbentuk

Yaa... manusia tidak terlalu tahu kapankah awal kehidupan ini terbentuk, ada yang mengira semua ini berawal berjuta-juta tahun yang lalu dan ada yang berkata bermilyar-milyar tahun yang lalu.

Tapi, supaya lebih yakin, lihat postingan di bawah


Bombardir besar-besaran asteroid yang terjadi 4 milyar tahun lalu bisa jadi tidak memiliki kemampuan untuk menghancurkan kehidupan awal yang baru terbentuk di Bumi, melainkan justru mempercepat pertumbuhan kehidupan itu.

Tabrakan besar di Bumi milyaran tahun lalu. Kredit : NASA/JPL

Tabrakan besar di Bumi milyaran tahun lalu. Kredit : NASA/JPL

Bukti tabrakan yang berasal dari sampel bulan, meteorit, dan kawah–kawah di permukaan planet dalam memberikan gambaran lingkungan yang mengalami kekerasan selama masa Hadean Eon, periode geologi yang terjadi 4,5 – 3,8 milyar tahun lalu. Umumnya hal tersebut terjadi melalui perubahan besar-besaran yang terjadi dalam masa Late Heavy Bombardment sekitar 3,9 milyar tahun lalu. Walau banyak yang meyakini kalau bombardir besar-besaran tersebut mensterilkan Bumi, studi terbaru dari para peneliti University of Colorado at Boulder justru menunjukan kalau kejadian tersebut hanya melelehkan beberapa fraksi kerak Bumi dan mikroba yang ada justru selamat dari bencana global tersebut.

Hasil ini memberi nuansa baru dalam penelitian waktu terbentuknya kehidupan. Kalau selama ini diyakini kehidupan dimulai setelah masa tabrakan besar, studi yang baru justru membawa manusia pada pemikiran kalau kehidupan bisa jadi telah dimulai jauh sebelum masa kehancuran besar itu, atau sebelum periode 3,9 milyar tahun lalu. Disini muncul kemungkinan baru kalau kehidupan telah mulai muncul mungkin pada kisaran 4,4 milyar tahun lalu saat lautan pertama terbentuk.

Sayangnya, bukti yang ada di Bumi saat masa awal kehancuran telah terhapus jejaknya oleh cuaca dan plat tektonik yang berubah dari masa ke masa. Untuk itu penelitian ini dilakukan dengan menggunakan data dari batuan bulan yang dibawa Apollo, catatan tabrakan dari Bulan, Mars dan Merkurius serta studi teoritis yang sudah ada sebelumnya dan digunakan untuk membangun model komputasi 3 dimensi untuk membuat replika masa penghancuran tersebut.

Dalam model tersebut Abramov dan Mojzsis memasukan benda berukuran asteroid, dengan distribusi dan frekuensi yang diperhitungkan dapat menghancurkan Bumi sesuai dengan data kerusakan di Bumi sepanjang Late Heavy Bombardment yang terjadi selama 20 juta- 200 juta tahun. Model 3-D tersebut memonitor temperatur dibawah masing-masing kawah untuk memperkirakan pemanasan dan pendinginan kerak akibat tabrakan besar. Tujuannya untuk mengevaluasi kemungkinan kehidupa disana. Hasilnya, kurang dari 25% kerak Bumi akan mengalami peleleja akibat tabrakan tersebut.

Tak hanya itu, peneliti CU-Boulders juga menaikkan intensitas tembakan asteroid dalam simulasi tersebut sampai 10 fold, yang mampu meguapkan lautan di Bumi. Hasilnya? bahkan dalam kondisi paling ekstrim sekalipun, Bumi tidak sepenuhnya disterilkan oleh tabrakan besar itu.

Yang terjadi justru, lubang hidrotermal memberikan perlindungan bagi mikroba yang ekstim dan menyukai kondisi panas seperti bakteri hipertermophilic. Bahkan seandainya memang kehidupan tidak dimulai 3,9 milyar tahun lalu, kondisi tersebut masih tetap memberi tempat bagi awal mula munculnya kehidupan di Bumi.

Para peneliti menyimpulkan mikroba subterranian yang hidup pada rentang temperatur 175 – 230 derajat Fahrenheit akan berkembang sepanjang masa tabrakan besar terjadi. Hasil pemodelan menunjukan indikasi habitat bawah tanah untuk mikroba tersebut yang justu meningkat dakam hal volum dan durasi sebagai akibat dari tabrakan masif itu. Bahkan sebagian mikroba ekstrim yang ada di Bumi saat ini seperti “unboilable bugs” (serangga yang tidak dapat mendidih) justru ditemukan pada lubang hidrotermal di Yellowstone National Park – tumuh subur pada suhu 250F.

Bukti geologi menyatakan kehidupan di Bumi sudah ada sejak 3,83 milyar tahun lalu. Karena itu menurut Mojzsis sangat tidak beralasan mengajukan kemungkinan kalau kehidupan di Bumi sudah ada sejak 3,9 milyar tahun lalu. Bahkan telah diketahui juga dari catatan geokimia kalau Bumi sudah merupakan area habitasi (bisa ada kehidupan) pada saat itu. Studi yang baru justru memberi warna baru yang bisa menyelesaikan masalah besar pada asal mula kehidupan dengan meniadakan kondisi asal mula yang beragam dari kehidupan di Bumi.

Para peneliti keplanetan meyakini ada benda sebesar planet Mars menghantam Bumi dengan hebat 4,5 milyar tahun lalu. Tabrakan tersebut diyakini menguapkan si benda sebesar Mars itu dan sebagian Bumi. Tabrakan yang terjadi diyakini membentuk awan uap air besar dimana moonlet dan kemudian Bulan mengalami koalisi (penggabungan). Kejadian yang diyakini mengawali tabrakan besar selama 500 juta tahun dan membuat Bumi mengaktifkan tombol pengulangannya.

Hasil studi yang baru justru menunjukan tidak ada kejadian sejak pembentukan Bulan yang mampu menghancurkan kerak Bumi dan menyapu bersih biosfer yang sudah ada. Tabrakan besar tersebut menurut Mojzsis bukannya memotong pohon kehidupan namun hanya memangkasnya saja. Selain itu hasil penelitian ini juga mendukung potensi kehidupan mikroba di planet lain seperti Mars dan planet batuan, ataupun planet serupa Bumi yang ada di sistem keplanetan lain yang mengalami perbaruan permukaan akibat tabrakan.

Sumber : EurekAlert langitselatan.com (dengan beberapa edit)

Tuesday, 4 January 2011

Announcement for Readers and viewers :)

For all of visitors, readers and viewers from another country, if you want to read this blog and can't understand with the language in this blog, just open this blog from another web browser. it is google chrome.

with that web browser, you can easily translate this page to another language that you can. So you can easily read this blog

You can download google chrome here

http://www.google.com/chrome/intl/id/landing.html#ext-kapanlagi

Thank you

Sincerely

Egia Mulya Baskara

Bukti pendaratan di Bulan

Pro Kontra Pendaratan Di Bulan

Pernah nonton Jejak Petualang? Tentu menyenangkan kalau kita bisa menjelajahi daerah-daerah yang ada di Indonesia. Atau pernah nonton Star Wars? Wah seperti apa yah rasanya menjelajah alam semesta ini?. Mungkin bagi sebagian orang menjelajah Indonesia jauh lebih masuk akal ketimbang menjelajah alam semesta. Jangan jauh-jauh alam semesta. Menjelajahi tata surya saja belum tentu bisa. Tapi apa menjelajah ruang angkasa hanya sekedar mimpi?

Foto pendaratan di Bulan.

Mimpi dan harapan untuk menjelajah dan menemukan seorang teman di sudut semesta telah menginspirasi lahirnya film fiksi ilmiah selama bertahun-tahun. Impian menjelajah Tata Surya seringkali menghiasi imajinasi manusia. Bukan hanya mimpi memang yang bisa membuat kita berandai-andai berada di planet lain. Nyatanya, ada banyak misi yang dilakukan untuk mewujudkan impian tersebut.

Tahun 1969, pesawat Apollo 11 berhasil membawa dan menjejakkan manusia untuk pertama kalinya di Bulan. Tentu kita semua ingat siapa itu Neil Amstrong, manusia pertama yang menjejakkan kaki di Bulan. Namanya menghiasi buku IPA di SD, SMP maupun SMA. Tak pelak peristiwa ini bisa dikatakan menjadi salah satu tonggak sejarah penting dunia IPTEK. Dengan demikian, impian untuk menjelajah lebih jauh lagi dari Bulan hanya menunggu waktu untuk direalisasikan.

Setelah lebih dari tiga dekade terlewati, pro kontra masih membayangi peristiwa bersejarah itu. Skeptisme muncul karena ada anggapan NASA-saat itu- belum memiliki teknologi yang memungkinkan pendaratan di Bulan. Era tahun 1969 merupakan masa dimana perang dingin antara Uni Soviet dan Amerika belum berakhir. Tekanan “Perang Dingin” dengan Soviet membuat Amerika harus melakukan sesuatu untuk memenangkan perang tersebut. Terlebih lagi setelah Soviet berhasil mengorbitkan Yuri Gagarin. Karena itu bisa saja pendaratan Apolo 11 di Bulan hanya sebuah skenario politik untuk memenangkan perang dingin.

Tapi kalau pendaratan itu palsu, harusnya Uni Soviet sudah menjadikan ini sebagai sebuah serangan balik bagi Amerika. Tapi sampai saat ini, bahkan saat histeria pendaratan itu terjadi, pihak Soviet tidak memberikan reaksi menyerang.

Jika dilihat dari foto yang dipublikasikan memang ada beberapa hal yang aneh. Diantaranya foto yang memperlihatkan bendera tampak berkibar padahal di Bulan tidak ada atmosfer dan angin. Selain itu ada juga foto yang tidak memperlihatkan adanya satu bintangpun pada langit latar belakang Bulan yang gelap.

Bendera Berkibar Tanpa Angin? Mustahil!
Bendera yang berkibar mungkinkah? Pertanyaan ini sering muncul jika melihat foto pendaratan Apollo. Di bulan kan tidak ada angin. Tapi memang untuk bisa berkibar, bendera tidak selalu membutuhkan angin. Setidaknya di ruang angkasa hal inilah yang terjadi. Pada kondisi di Bulan, bendera dipancangkan bukan hanya pada tiang vertikal, tapi terdapat juga tiang horizontal yang ditambahkan di bagian atas bendera, sehingga bendera tersebut tampak tergantung dan merentang. Selain itu permukaan Bulan yang keras mempersulit pemancangan tiang bendera, sehingga para astronot harus memutar tiang tersebut maju mundur agar bisa ditanamkan di tanah bulan. Akibat gerakan ini, bendera tersebut berkibar, atau yang sebenarnya lebih tepat jika disebut bergetar. Di Bumi kibaran bendera terjadi beberapa detik dan diperlambat oleh udara, tapi kondisi vakum di Bulan menyebabkan gerakan bendera tersebut tidak akan berhenti karena tidak ada gaya dari luar yang menghentikannya.

Di Langit Tak Ada Bintangkah?
Pertanyaan lain yang muncul saat melihat foto-foto yang dipublikasikan, mengapa tidak ada bintang pada gambar yang diambil para astronot dari permukaan Bulan. Logikanya tanpa atmosfer otomatis langit Bulan menjadi gelap. Jika demikian tentunya pengamat bisa melihat objek-objek terang seperti bintang.

Pada langit Bumi, partikel-partikel atmosfer Bumi akan menghamburkan cahaya matahari pada panjang gelombang biru, sehingga langit siang hari pun tampak biru. Berbeda dengan Bulan, yang hampir dapat dikatakan tidak memiliki atmosfer sehingga langit senantiasaÊ gelap, baik siang maupun malam. Jadi, jika kita berada di Bulan, tentunya bintang akan selalu terlihat. Tetapi kenapa tidak terekam dalam gambar yang diambil Apollo? Dalam foto itu, sebenarnya bintang tersebut ada, namun terlalu redup untuk ditangkap kamera. Kamera dan film yang digunakan oleh para astronot disetel untuk mengambil gambar-gambar kegiatan di Bulan. Exposure timenya diatur sedemikian rupa agar dapat merekam kondisi permukaan Bulan yang terang, bukan untuk mengambil gambar objek-objek lemah pada langit latar belakang.

Jejak Kaki yang Membandel
Pada foto yang lain, tidak tampak adanya lubang bekas semburan roket pada lokasi pendaratan. Untuk roket seukuran Apollo seharusnya semburannya dapat menimbulkan lubang yang besar pada permukaan Bulan. Jadi, bagaimana bisa roket mendarat mulus tanpa membekaskan jejak besar?

Untuk melakukan sebuah pendaratan tentu tidak dilakukan dengan kecepatan tinggi tapi dengan kecepatan yang diperlambat. Tidak ada satu orangpun yang memarkirkan mobilnya dengan kecepatan 100 km/jam. Hal yang sama berlaku juga pada Apollo 11. Semburan roket memiliki dorongan 5000 kg, tetapi roket tersebut diperlambat sampai sekitar 1500 kg saat mendekati permukaan. Dengan diameter pipa pengeluaran roket sebesar 54 inci (dari Ensiklopedia Astronautica), dan ukuran roket sekitar 2300 inci persegi, semburan roket hanya menimbulkan tekanan sekitar 0.75 kg /inci persegi. Tekanan sebesar ini tidak akan sampai menimbulkan jejak lubang yang besar.

Hasil foto-foto yang diambil di Bulan juga memperlihatkan adanya bayangan yang kurang gelap. Obyek yang seharusnya gelap karena berada dalam daerah bayangan, tetapi dalam foto dapat jelas terlihat, termasuk tulisan di sisi pesawat. Jiika Matahari merupakan satu-satunya sumber cahaya, dan tidak ada udara yang dapat menghamburkan cahaya, seharusnya bayangan yang terjadi sangat gelap. Sebuah persepsi yang salah. Memang ini bukan diÊ Bumi dan cahaya Matahari tidak dapat dihamburkan dalam kondisi hampa udara. Tapi di Bulan masih ada sumber cahaya lain yang berasal dari Bulan sendiri. Debu di Bulan memiliki sifat yang khas: yaitu memantulkan kembali cahaya ke arah sumber cahaya berasal.

Foto Yang Sempurna
Kejanggalan lainnya, foto-foto yang dihasilkan oleh para astronot terlalu bagus dan hampir sempurna untuk ukuran seorang amatir, belum lagi kondisinya berbeda dari Bumi. Seorang fotografer profesional saja belum tentu semua foto yang diambil memiliki hasil sempurna. Kok bisa, para astronom yang amatir dalam fotografi memiliki hasil foto yang begitu bagus.

Sebelum diberangkatkan ke Bulan, para astronot ini selain menerima pelatihan untuk beradaptasi dengan kondisi Bulan mereka juga dilatih bagaimana mengambil foto di Bulan. Awak Apollo 11 dalam penjelajahannya mengambil sekitar 17000 foto di permukaan Bulan. Ada banyak foto yang gagal, dan tentunya yang dipublikasikan adalah foto-foto yang dianggap bagus dan berhasil. Sama seperti seorang fotografer, foto yang dipublikasikan tentunya foto-foto yang bagus bukan yang gagal.

Bukti Yang Sahih
Salah satu bukti yang tidak bisa disangkal adalah keberadaan batuan dari Bulan. Sekitar 841 pon batu dibawa dari Bulan untuk diteliti. Batu-batu ini sangat berbeda dari batu yang ada di Bumi. Penelitian terhadap batu tersebut bisa menunjukkan asal usul, serta kondisinya yang berada dalam keadaan tanpa udara dan tanpa air selama ribuan tahun. Tidak ada yang bisa membuat replika batu seperti ini baik secara alami maupun buatan manusia. Selain itu batuan ini tidak mungkin berasal dari asteroid karena contoh batuan yang berasal dari asteroid telah dikoleksi oleh NASA maupun para peneliti di belahan Bumi lainnya. Batu ini pun bukan berasal dari batu yang jatuh sebagai meteorit dari angkasa karena batu yang jatuh sebagai meteorite akan dioksidasi saat melewati atmosfer. Dan ini tidak terjadi pada batu-batu tersebut.

Para ahli geologi dari seluruh dunia telah meneliti batuan tersebut, dan merupakan hal yang bodoh jika membuat batuan palsu untuk menipu semua peneliti. Jauh lebih mudah untuk pergi ke Bulan dan mengambil batuan tersebut dibanding memberi argumentasi palsu melawan semua ahli geologi sedunia. Para ahli tersebut bukan orang bodoh yang bisa ditipu.

Memang benar Amerika Serikat sebagai negara adikuasa bisa melakukan apapun untuk menjadi yang terdepan, namun bukan berarti persepsi seperti ini membuat kita menutup mata terhadap keberhasilan yang telah diraih oleh dunia sains dan teknologi.

Seandainya pendaratan tersebut memang palsu, apakah NASA begitu ceroboh sehingga meninggalkan banyak bukti untuk diungkapkan? Jika bayangan yang muncul di foto salah, mengapa tidak satupun personel NASA yang menyadarinya?

Mungkin jauh lebih mudah untuk menerima bahwa NASA telah berulang kali berhasil mengirimkan misi tanpa awak. Tapi juga bukan berarti penerbangan berawak menjadi sesuatu yang mustahil. Saat ini eksplorasi ruang angkasa tanpa awak telah berhasil menguak misteri tata surya mini di Saturnus (Saturnus dan satelit-satelitnya, lihat misi Cassini-Huygens). Perjalanan Misi Deep Impact berhasil memberi ruang baru untuk menguak misteri komet dan langkah awal untuk memahami pembentukan Tata Surya. Bahkan direncanakan beberapa tahun lagi, akan ada misi berawak kembali ke Bulan untuk menjajaki kemungkinanan hidup di Bulan. Misi ini akan menjadi misi awal sebelum melangkah ke Mars. Mungkin setelah Mars, hanya hitungan waktu dan Titan akan menjadi sasaran koloni berikutnya.